Es Teh Jumbo Ibu Ais: Harapan yang Tak Pernah Mencair di Tengah Teriknya Kota Medan
Medan – Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar menguasai langit Medan, seorang
perempuan berkemeja kotak dan topi putih dengan gaya yang tomboy, dan penuh percaya diri sudah bersiap di bawah tenda sederhana, dengan meja lipat dan ember es, Di depan pagar mesjid al jihad, tepat nya di Jl. Abdullah Lubis Babura, Medan Baru. Ais (40), sosok tangguh sekaligus penuh kelembutan, membuka gerai kecil yang belakangan dikenal warga sekitar sebagai “Es Teh Jumbo Ibu Ais.”
“Saya mulai jualan jam sepuluh pagi, kadang lebih cepat. Tapi sebelum itu sudah harus siapin
semua bahan dari rumah,” tuturnya sambil tersenyum. Senyum itu seolah ingin
menyembunyikan lelah yang tak pernah benar-benar pergi.
Dua tahun sudah Ibu Ais menjalani usaha ini. Sejak 2023, tepatnya saat masa sulit
memaksanya mencari jalan baru, ia memutuskan untuk meracik sendiri es teh jumbo yang
kini jadi andalannya. Dari dapurnya di rumah kontrakan di Jl. Abadi, Setia Budi, ia memulai
segalanya dengan niat sederhana untuk bertahan hidup demi anak semata wayangnya.
“Anak saya masih sekolah. Namanya Riko, usianya 14 tahun, sekarang kelas 2 SMP,”
ucapnya lirih, matanya berkaca-kaca. “Semua ini buat dia. Dia yang jadi semangat saya tiap
hari.”
Es teh jumbo milik Ais bukan sekadar minuman pelepas dahaga. Ia menjual rasa manis yang
sederhana, dengan harga yang sangat bersahabat untuk semua kalangan. Mulai dari es teh
original seharga Rp3., hingga varian rasa yang kreatif dalam dua kategori: Fruit Series
dan Milk Series.
Untuk Rp5., pembeli bisa menikmati es teh lemon, leci, markisa, melon, atau strawberry
segar dan nikmat, cocok dengan cuaca panas Kota Medan. Sedangkan dengan Rp8.,
varian Milk Series hadir lebih creamy: es teh susu leci, susu melon, susu strawberry, hingga
kombinasi susu lemon yang jarang ditemui di tempat lain. Ada juga pilihan es teh susu polos
dengan harga Rp6..
Tak jarang pelanggan tetap kembali hanya karena satu hal sederhana: sentuhan tangan Ibu Ais dan sapaan hangat yang selalu menyertai setiap gelas yang ia suguhkan.
“Kalau ramai, bisa dapat 300 ribu. Tapi ya kadang 200, kadang 250 ribu saja. Namanya juga
usaha kecil,” katanya, dengan nada penuh syukur. “Yang penting masih bisa buat belanja
harian dan tabung sedikit buat anak sekolah”, sambungnya.
Hari ini menjadi hari spesial bagi Ais. Seorang remaja perempuan bernama Najwa (20)
tampak gugup membantu di belakang meja, merapikan gelas dan mengangkat kantong es
batu. Ia adalah pegawai baru, yang baru pertama kali bekerja dan langsung didampingi oleh
Ais.
“Saya senang bisa ngajarin orang. Dulu juga saya belajar dari nol,” kata Ibu Ais, menepuk
bahu pegawai barunya dengan bangga.
Usahanya memang belum besar, tapi perlahan Ais belajar mempercayai orang lain, membagi
rezeki, dan membangun mimpi kecil: menjadikan usaha es teh jumbo ini lebih dikenal dan
bisa membuka lebih banyak lapangan kerja, walau hanya satu-dua orang.
Tetes Keringat yang Penuh Cinta di tengah panas dan debu jalanan, Ais berdiri setiap hari.
Tak jarang ia harus bertahan dari deras hujan, atau mengusir lelah setelah menempuh
perjalanan dari rumah ke tempat jualan dengan ojek online.
Namun di balik semua itu, ada semangat yang tak tergoyahkan cinta seorang ibu. “Saya enggak punya mimpi besar. Saya Cuma mau anak saya bisa sekolah tinggi, jadi orang
sukses. Biar dia enggak perlu jualan di pinggir jalan kayak mamaknya,” katanya sambil
menatap jauh ke arah lalu lintas yang tak pernah berhenti.
Es teh jumbo yang ia jual mungkin terlihat biasa. Tapi di dalam setiap gelasnya, tersimpan
cerita panjang tentang perjuangan, harapan, dan cinta yang tak pernah padam. Dan mungkin, itulah rasa paling istimewa yang tak bisa ditemukan di tempat lain.(***)
Oleh: Fitri Aulia
Mahasiswi UIN Sumatera Utara
